EVALUASI PROGRAM BIMBINGAN DAN KONSELING (Studi Evaluasi Model CIPP di Sekolah Menengah Atas Islam Nurul Fikri Boarding School Serang)
Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pelaksaan program Bimbingan
dan Konseling di SMA Islam Nurul Fikri Boarding School Serang menggunakan
model evaluasi Stufflebeam yang terdiri dari evaluasi Context, Input, Process, dan
Product. Penelitian ini menggunakan metode Evaluatuf dengan sumber data berupa
wawancara, dokumentasi, dan observasi yang melibatkan Direktur Pendidikan,
Kepala Sekolah, Wakil Kepala Bidang Kurikulum, Koordinator Guru Bimbingan
dan Konseling, Guru Bimbingan dan Konseling, Wali Kelas, siswa, dan orang tua
siswa. Pengujian keabsahan data dilakukan menggunakan ketekunan pengamatan
dan triangulasi. Analisis data menggunakan teknik analisis data evaluatif.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam evaluasi komponen context,
semua komponen telah tercapai. Walaupun program Bimbingan dan Konseling di
SMA Islam Nurul Fikri Boarding School Serang telah mencapai beberapa
komponen evaluasi dengan baik, masih terdapat beberapa aspek yang perlu
ditingkatkan untuk mencapai kualitas yang lebih baik dalam pelaksanaan program
Bimbingan dan Konseling. Bimbingan dan Konseling SMA Islam Nurul Fikri
Boarding School Serang memiliki latar belakang yang jelas, dokumen perencanaan,
analisis kebutuhan, dan sebagainya. Pada komponen input, beberapa aspek telah
tercapai seperti personil Bimbingan dan Konseling yang berkompeten, anggaran
dana yang cukup, jadwal yang teratur, dan sistem peningkatan Guru Bimbingan dan
Konseling yang berkualitas. Namun, masih terdapat kekurangan dalam hal saran
dan prasarana yang kurang memadai serta kurangnya SOP Guru Bimbingan dan
Konseling. Pada komponen process, sekolah telah memahami fungsi Bimbingan
dan Konseling dengan baik, namun masih terdapat kendala dalam komunikasi
antara Guru Bimbingan dan Konseling dengan orang tua siswa, keterlaksanaan
program Bimbingan dan Konseling yang belum optimal, dan kurangnya pemetaan
kerawanan kelas. Beberapa hambatan lainnya termasuk sulitnya penyesuaian waktu
antara Guru Bimbingan dan Konseling dengan siswa, respon siswa yang kurang
antusias, kegiatan dadakan yang dapat mengganggu semangat belajar siswa, siswa
yang tertutup, orang tua yang kurang kooperatif, ketidakseimbangan antara jumlah
dengan yang diampu oleh Guru Bimbingan dan Konseling, ketidaksesuaian antara
keinginan anak dan orang tua, kesulitan adaptasi siswa, jarak ruang Bimbingan dan
Konseling yang jauh dari ruang kelas, kurangnya privasi ruang Bimbingan dan
Konseling, kurangnya motivasi siswa untuk berkonsutasi, tuntutan orang tua,
kurangnya daya tarik sesi Bimbingan dan Konseling, keterbatasan waktu, dan tidak
adanya jobdesk Guru Bimbingan dan Konseling yang tertulis. Pada komponen
product, perkembangan akademik siswa dapat dikatakan baik.


